DISTORSI KEHIDUPAN
Menjelma buih di kehampaan batin, menyeluruh diam pada sayap merpati yang patah namun memaksakan untuk terbang meski terbilang mustahil dan nihil. Aku dan fase hidup yang berdistorsi menikam takdir dalam stigma dimana aku hanya segenggam kotoran pada tangan yang terbalik dan menyembunyikan. Pada perih yang mengiring syahdu, dalam bias pusara hati yang telah lama terpejam abadi. Sebuah panggilan terngiang di telinga ingin segera menyuruhku untuk berbalik dan kembali menjemputnya. Namun langkah harus tetap menerka bumi menuju mimpi yang sejatinya mimpi.
Aku tak ingin berucap untuk kembali menjilat masa lalu, merekam ulang memori lama dan hendak menulis ulang dengan tinta nostalgia. Tetaplah melangkah sampai kita berjumpa lagi di persimpangan jalan, karena jikalau Tuhan berkehendak, segalanya bisa saja terukir kembali. Yakinlah, aku tetap aku yang dulu, meski kini ada hati yang lain yang ingin dan ku angankan untuk ku gapai.
Menari entah dalam gelap
Disusuri enyah yang bungkam
Narasi diam sunyi menyelinap
Pada malam gelisah yang kelam
Pada rima bersenandung
Ucap jenuh titik terbisu
Dalam puji senja tersanjung
Cakrawala indah tergaris layu
Jerit syahdu mengalun pekat
Berjelaga di kehampaan
Indah syair kata terikat
Pada malam-mimpi terpikat
Komentar