LANGIT DAN FILOSOFI HUJAN
Cinta tak sebatas bicara, tak sekadar duduk berdua dalam romantika. Cinta seorang pujangga pada sang damba akan tersirat dari syairnya, cinta sepasang pengelana akan terlintas pada jejak mereka menapaki dunia. Cinta adalah anugerah dari sang maha cinta. Syukuri, jangan kufuri. Jangan rombak hati yang dulu suci dengan benci. Dan aku, mencintai seseorang dengan karyaku. Cukup sadar dan tahu, meski dia tak pernah sadar dan tahu. Aku mencintainya dari sepasang mata yang acap kali terpejam damai kala saling tatap dalam mimpi, hingga tersadar tak pernah ada dia yang bangunkan pagi. Selamat bermalam duhai kasih, aku menunggumu di pelataran putih nan bersih di atas singgasana asa pada mimpi seseorang yang telah menua, karena cintanya tak kunjung menyapa. Aku mencintainya tanpa sebab dan aku siap melupakannya seraya mencoba ikhlas dan berhenti berharap. Biarkan tangan Tuhan yang kelak mempersatukan kita, baik di dunia yang fana atau nanti di surga yang abadi jika nanti umurku terhabiskan dalam amal yang bakti kepada sang pemilik bumi. Aku mengabdi pada hati yang suci, seiring do'a yang kian bersinar di kala subuh menjelang. Biarkan ku cerna nafasku sendiri sebelum nanti ku cerca jiwaku menepi, karena jiwaku memang sulit mendapatkanmu. Duhai gadis kecil pujaan batin yang mengais hadir di atas pusara mimpi. Sekali lagi, selamat menikmati malam. Semoga tidurmu damai bersamanya.
Hamparan sebuah kisah mengalun indah pada masanya. Masa dimana kasih terurai lembut nan anggun. Ku jeda sejenak nafas seraya berdawai mengalunkan sepi dan sunyi. Merintih menopang badan yang melemah karena cinta tak terbalas. Tersenyum kecil seiring tetes keringat bercucuran melelah pada penundukan yang sia-sia, sesaat setelah tangis rembulan mengering di malam yang dihujani mimpi yang tak pernah jernih dihiasi pelangi hitam putih. Aku dan keberpalingan bertanya pada raut bintang-bintang kejora, menepi di hamparan awan-awan gelap di ufuk timur. Sedingin angin menghelai badai harapan pada sosok permaisuri abadi dalam angan yang tak pernah jadi kenyataan. Aku bukan puisi, aku bukan sajak. Aku hanya insan yang berani meninggalkan jejak. Aku menua bersama tulisan-tulisan kelam yang tak terbaca zaman. Namun aku yakin, keberadaan setiap hurufnya akan menjadi obat saat wujudmu kembali melekat dalam ingat.
Seketika anganku gemerlap meredupkan sunyi dalam enyah yang berjelaga mengitari dentuman distorsi kehidupan. Lambat laun, bias sinar di batinku pun ikut menggelap. Kau dan kehampaan yang berlinang air mata telah mengalirkan kehampaan di relung jiwaku. Menikmati senyummu adalah angan dan inginku, tapi segalanya hanyalah mimpi. Menjelma setiap angan menjadi bayangan, pada sosok peri tidur yang kerapkali muncul di benak rembulan yang menjadi peneduhku kala terjaga. Setiap hati ingin dicinta, setiap cinta ingin terbalas. Namun segala hal tentang cinta tak pernah berbekas, iya, bertepuk sebelah tangan. Aku dan kebodohanku sebagai insan yang penuh dengan ketidaksempurnaan. Kini, tinggal aku dan kenangan, mengenangmu adalah hal terestetik dalam jejakku, karena kau adalah keindahan yang tak terjelaskan kata-kata serta goresan puitis yang seringkali kau baca di setiap surat-suratku, sebelum ku akhiri pengabdian cinta itu, setelah kau putuskan untuk berpaling mencari dan menemukan cinta yang lain.
Kaulah sajak yang tak terjelaskan maknanya. Menepi alurmu sebagai periringan batin di kehampaan rindu pada sosok permaisuri di hari esok. Pada sebuah keniscayaan kau hadir sebagai pengadu rasa dan penyemangat dalam gelap. Kini, setiap detik demi detik ku habiskan untuk menerka-nerka rasa yang ada di dalam lubuk hatimu, pada palung yang bungkam dari bisikan kalbuku. Ku mencoba untuk tetap bersinambung dengan kelamku, asa yang entah sirna kini meraba menjadi rasa yang tiada duanya. Cobalah untuk menjadi terang dalam redupku, jangan terus-menerus menghujaniku dengan tetesan rindu padamu. Aku ingin senantiasa bernaung di bawah rimbun jiwamu, yang segar serta selalu ada di setiap bayang menjelang tidur lelapku. Kaulah langit yang bermendung dan menghujan kala malam dan menutup bintang-bintang serta rembulan. Sekali lagi, selamat menikmati setiap asamu, yang kau rangkai untuk sementara, tidak dengan siapa-siapa kecuali bersama intuisimu semata.
Komentar