PADA AKHIRNYA
Dalam sepi mengendap hampa keberpalingan menjemukan, diawasi masa lampau menghantui pijakan kaki yang masih menyintas sampai saat ini. Akhir yang labil dalam goresan tangan yang tak kujung temukan titik terang baru, sedikit menoleh ke belakang mencari tahu dimana tumpuan tak berjejak penebus hari-hari baru yang lebih berwarna dan tak terikat lagi dengan sinema lama yang lihai terputar kembali halangi pandangku akan hari esok penuh ekspektasi. Naluri manusiawi bergejolak saling tolak-menolak dengan keadaan, hijrah hati hendak memeluk surga yang jembatan kepadanya masih klasik yakni menjadi manusia seutuhnya, bukan yang tanpa noda, melainkan yang seraya bertasbih meski lukisan di atas sajadah telah dicemari kening penuh dosa kala sujud penyesalan gugurkan benci dan dengki. Ada tangan Tuhan yang bermain di setiap kesadaran masif di sela pikiran busukku dan kemunafikan diri sebagai seorang hamba. Aku masih belum ahsan, belum merasa diawasi kebesaran Tuhan dan belenggu yang mengikat batin yang memasung kebebasan masih menjadi alasan meninggalkan kewajiban. Ampuni hamba Ya Rabb, jalan-Mu adalah yang terbaik namun hamba masih tersesat dan ingin melompati kesesatan ini menuju rute keabadian yang seanggun tatanan bunga di taman terindah semesta. Semua tergantung dan segalanya menurut kehendak-Mu, hamba bukanlah cahaya yang setia menyinari tanpa pamrih, karena masih takut neraka, mengharap surga, beribadah karena-Mu pun masih memperhitungkan pahala juga meninggalkan laranganmu masih mempertimbangkan dosa. Setiap sadarku adalah fase untuk merangkai kalimat ingin mencintai sepenuh hati, sedalam rindu yang membeku di dasar jiwa. Pantaskah aku mencintai manusia lainnya ketika kedekatanku dengan sang pencipta masih belum sempurna.
Komentar