TEMARAM SENJA

Temaram senja penghias langit kala sore bergegas terganti malam, di ujung garis cakrawala terdampar serpihan mimpi yang tak terbeli. Muram wajah semesta tanpa hadirkan sehelai tawa yang biasanya menyelinap di antara awan-awan jingga yang menutup sebagian mentari. Hitam putih peradaban telah bercampur-aduk dengan perspektif kehidupan lainnya, selayaknya pelangi yang menghias sisa-sisa mendung saat hujan kala itu, sedikit demi sedikit mereda dan yang tersisa hanyalah gerimis pengundang rindu. Melati kecil yang tumbuh di sepanjang trotoar jalanan masih mengais kerasnya kehidupan. Si tua renta juga masih memikul barang bawaannya dengan pundak lusuh penuh deburan keringat, bergelombang seperti ombak yang menyapu bersih jejak-jejak kecil di tepi pantai. Teater senja baru bergema dan seolah tak ingin tertutup malam, terbilang singkat, memang. Namun, begitulah putaran waktu, ia takkan menunggu peluhmu mengering atau dahagamu terpenuhi, bahkan ketika langkahmu belum berlanjut. Ia akan terus berotasi sampai tiba saatnya napas semesta terhenti. Tunjukkan, kaulah sang pemimpi sejati. Mimpi-mimpi kecil akan menjadi istana yang megah jika melewati proses yang indah, meski susah dan tak mudah, jalani dengan tabah.

Komentar

Postingan Populer